Thursday, January 30, 2014
Ketulusan Peran
Keseharian kita melakukan tugas dari peran masing-masing, bekerja, kuliah, sekolah, mengurus anak-anak atau kegiatan lainnya. Selesai itu melanjutkan peran yang lain sebagai anak, sebagai teman, istri atau suami, kekasih, anggota masyarakat atau hanya menjadi diri sendiri. Semua dari diri kita memiliki lebih dari satu peran. Setiap hari kita melakukan hal-hal terkait dengan peran itu dengan sengaja, sebagai suatu tanggung jawab dari sebuah pilihan. Baik peran itu memang benar-benar peran itu pilihan kita, karena dipilihkan seseorang, atau bahkan given.
Kita disebut pegawai karena kita bekerja pada seseorang atau pada sebuah perusahaan. Kita disebut pengusaha karena kita melakukan sesuatu dan berusaha untuk mendapatkan hasil atau tujuan kita. Kita disebut penulis karena kita menghasikan sebuah tulisan. Kita disebut orang tua karena kita yang mengasuh anak-anak. Kita dianggap teman lama karena sudah lama kenal dan berbagi bersama sejak sekian lama, atau teman baru karena baru kenal sudah saling cocok yang akhirnya berteman. Dan seterusnya.
Kita adalah apa yang kita lakukan, kita adalah apa yang kita perankan, dari manapun asalnya peran itu. Ketulusan, kesungguhan, kejujuran, kegigihan dan besarnya cinta kita terhadap peran, sangat mempengaruhi hasilnya. Begitu juga sebaliknya ketika kita penuh kepura-puraan, tidak peduli, tidak menghadirkan hati atau kepalsuan lainnya, maka kepada apa atau siapa kita berkaitan, itu akan merasakannya. Itu akan mempengaruhinya.
Hubungan kita terhadap sesuatu adalah cerminan dari diri kita. Aksi sama dengan reaksi. Hukum kekekalan energi. Ketika kita memperlakukan buruk seseorang, tidak mungkin kita bisa mengharapkan perlakuan baik darinya. Ketika kita semena-mena terhadap alam, jangan harap semesta akan bersahabat dengan kita. Dan tak perlu khawatir ketika kita berbuat baik, berbagi, menebarkan cinta, menanamkan kasih sayang dan persahabatan, semuanya akan kembali ke kita. Dalam wujud yang sama persis atau berbeda bentuk tapi senilai, bahkan dengan nilai berlipat ganda.
Ketulusan menjalankan peran akan meringankan langkah untuk menjalaninya. Cinta yang disertakan dalam peran akan mengantarkan pada hasil yang luar biasa. Dan ketulusan cinta yang memang berasal dari hati, akan langsung merasuk ke hati.
It's our choice: menjalankan peran sepenuh hati atau melakukannya dengan penuh kepura-puraan sampai mati.
Saturday, January 11, 2014
Naik Kelas
Dalam kehidupan ini pasang surut perasaan, emosi, harta
benda atau bahkan iman pada keyakinan yang kita punya adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya terjadi. Kita hidup
seperti sudah bersahabat dengan ujian, cobaan, permasalahan atau ada yang
menyebutnya dengan tantangan. Sepertinya memang kita hidup untuk itu.
Suatu ketika saya tertimpa masalah yang bertumpuk-tumpuk
hingga mencapai suatu titik yang tak saya inginkan, bahwa saya merasa tak kuat
lagi, ingin menyerah, ternyata saya masih beruntung. Saya masih punya
sahabat-sahabat yang bersedia menjadi katarsis, lebih dari itu mereka
menguatkan saya. Sahabat saya bilang, “Tenang, sabar,… kamu itu mau naik kelas.”
Kalimat sederhana yang penuh makna, menguatkan, memunculkan
harapan baru. Ketika saya sudah hampir putus harap, kalimat tulus itu
menghadirkan kembali harapan yang indah. Saya akan melanjutkan hidup di “kelas”
yang lebih tinggi, meskipun harus melewati serangkaian ujian yang bukan saja
silih berganti tetapi serombongan datang seolah mereka sudah janjian untuk
menemui saya. (thanks to you guys…)
Kalimat sederhana yang menginspirasi saya untuk meneruskan energi
dari kalimat tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan shoulder to cry on, yang datang kepada saya. Dan ajaibnya, itu
efektif meredakan tangis mereka, menghadirkan senyum mereka kembali dan
mengubah keluhan menjadi do’a-do’a indah penuh harap.
Sahabat saya juga bilang, “Inda, jika kamu tidak bisa
menemukan shoulder to cry on karena
kesibukan teman-temanmu. Jangan takut, kamu masih menginjak bumi yang bisa kamu
jadikan tempat sujud dan menangis kapan pun kamu perlukan.” Meskipun kadang saya
tetap butuh teman, namun itu sebenarnya yang paling saya butuhkan. Kembalikan
semua permasalahan hidup kepada yang mengatur hidup. Hidup kita bukanlah milik
kita. Mengembalikan semua permasalahan kepada pemilik hidup, membuat kita
kembali ringan menjalaninya.
Kita memiliki semua yang kita butuhkan tepat pada waktunya. Mulai
dari titik ini tak akan ada lagi jalan untuk mundur.
Selamat menikmati ujian naik “kelas” J
Subscribe to:
Posts (Atom)