Kemarin di ruang kami kedatangan tamu dari negeri yang jauh, dari negeri
Oman. Datang ke Indonesia dalam rangka assignment program Ooredoo Group. Dia sendiri
dari Nawras Mobile. Pertengahan bulan beliau datang dan biasanya para ‘tamu’
ini mendatangi rekan kerja sebelah saya yang memang khusus membantu pengurusan
dokumen-dokumen para expat.
Seperti hari-hari biasanya saya tetap melakukan tugas saya, tak
ingin mengganggu mereka yang sering berlalu-lalang di depan meja saya untuk sekedar
say Hi atau bertanya “where are you come from?”
Miss yang satu ini beda, beliau langsung menyapa ramah “Hi,
Miss. I like your style of your Hijab.”
Spontan saya jawab “Hi… I can teach you if want to”
Dari situ kami jadi ngobrol banyak. Para expat yang biasanya
dilayani di meja sebelah, yang kali ini temen sebelah yang jadinya ikut
nimbrung ke meja saya.
At the end of the conversation, dia, Miss Inas namanya,
menyampaikan terima kasih atas bantuan kami. Dan shocking statement dari dia
bahwa dibilang Indonesian is the nicest people in the world! Kami shock,
“Really?!”
“Sure! Compare to Malaysian, Singaporean or another country
in Asia, even in Middle East like Arab, Dubai, you guys the nicest one.”
Kami saling bertukar pandang tak percaya. Saya sendiri merasa
bahwa nilai-nilai bangsa Indonesia yang ramah, baik, gotong-royong atau apalah
yang diajarkan ketika di bangku Sekolah itu sudah terkikis habis oleh ganasnya
penjajahan budaya asing yang makin digemari. Benarkah orang Indonesia adalah
orang-orang yang paling ramah dan baik dibandingkan masyarakat dunia yang lain?
Mungkin karena Miss Inas bertemunya dengan Inda jadi
berpendapat seperti itu.. hehehe *kidding. Miss Inas sudah menjelajahi banyak Negara, bertemu dengan berbagai jenis
karakter orang dari berbagai macam budaya. Saya berpendapat bahwa dia sudah
berhak menilai dan penilaiannya menurut saya cukup valid karena dia
berpengalaman.
Kembali kepada pemikiran saya yang sangat terusik… benarkah
Bangsa ini masih ramah dan baik? Sedangkan saya sering melihat pejalan kaki
harus semakin minggir ketika trotoar mulai dirajai pengendara motor.
Penyeberang jalan yang memang sudah benar memilih zebra cross harus buru-buru
berlari karena diklakson kendaraan yang berlalu-lalang.
Kehidupan bermasyarakat
sudah sangat individual, terutama di kota-kota besar. Saya sendiri pernah
merasakan, betapa helpless hidup di kota besar yang berpenghuni padat sekali,
namun ketika saya hampir pingsan turun dari kendaraan umum harus bertahan berjalan
lemas dengan pandangan sudah gelap mencari tempat berlindung di pinggir pagar
tanpa ada seorangpun yang berusaha menolong. Padahal ada ratusan orang yang
bersamaan turun di stasiun tersebut, namun taka da sedikit pun yang membantu,
at least bertanya “Kenapa mba?” No one.
Sejak saat itu saya makin tersadar, Indonesia telah berubah.
Mungkin di pedesaan dan di kota-kota kecil berbeda. Namun di Ibukota Indonesia
ini sudah ngga Indonesia banget :(
Kita harus berubah, mulai dari sekarang, mulai dari diri
sendiri, mulai dari hal-hal kecil. Jadikan Indonesia baik, jadikan Indonesia
peduli terhadap sekitar, jadikan Indonesia negeri yang ramah dan tetap
mempunyai sikap yang positif dan berkarakter tentu saja.
Bangkitlah Indonesiaku!






