Tuesday, December 3, 2013

Indonesian is the nicest people in the world



Kemarin di ruang kami kedatangan tamu dari negeri yang jauh, dari negeri Oman. Datang ke Indonesia dalam rangka assignment program Ooredoo Group. Dia sendiri dari Nawras Mobile. Pertengahan bulan beliau datang dan biasanya para ‘tamu’ ini mendatangi rekan kerja sebelah saya yang memang khusus membantu pengurusan dokumen-dokumen para expat.

Seperti hari-hari biasanya saya tetap melakukan tugas saya, tak ingin mengganggu mereka yang sering berlalu-lalang di depan meja saya untuk sekedar say Hi atau bertanya “where are you come from?”
Miss yang satu ini beda, beliau langsung menyapa ramah “Hi, Miss. I like your style of your Hijab.”
Spontan saya jawab “Hi… I can teach you if want to”

Dari situ kami jadi ngobrol banyak. Para expat yang biasanya dilayani di meja sebelah, yang kali ini temen sebelah yang jadinya ikut nimbrung ke meja saya.
At the end of the conversation, dia, Miss Inas namanya, menyampaikan terima kasih atas bantuan kami. Dan shocking statement dari dia bahwa dibilang Indonesian is the nicest people in the world! Kami shock, “Really?!”
“Sure! Compare to Malaysian, Singaporean or another country in Asia, even in Middle East like Arab, Dubai, you guys the nicest one.”

Kami saling bertukar pandang tak percaya. Saya sendiri merasa bahwa nilai-nilai bangsa Indonesia yang ramah, baik, gotong-royong atau apalah yang diajarkan ketika di bangku Sekolah itu sudah terkikis habis oleh ganasnya penjajahan budaya asing yang makin digemari. Benarkah orang Indonesia adalah orang-orang yang paling ramah dan baik dibandingkan masyarakat dunia yang lain?

Mungkin karena Miss Inas bertemunya dengan Inda jadi berpendapat seperti itu.. hehehe *kidding. Miss Inas sudah menjelajahi  banyak Negara, bertemu dengan berbagai jenis karakter orang dari berbagai macam budaya. Saya berpendapat bahwa dia sudah berhak menilai dan penilaiannya menurut saya cukup valid karena dia berpengalaman.

Kembali kepada pemikiran saya yang sangat terusik… benarkah Bangsa ini masih ramah dan baik? Sedangkan saya sering melihat pejalan kaki harus semakin minggir ketika trotoar mulai dirajai pengendara motor. Penyeberang jalan yang memang sudah benar memilih zebra cross harus buru-buru berlari karena diklakson kendaraan yang berlalu-lalang. 

Kehidupan bermasyarakat sudah sangat individual, terutama di kota-kota besar. Saya sendiri pernah merasakan, betapa helpless hidup di kota besar yang berpenghuni padat sekali, namun ketika saya hampir pingsan turun dari kendaraan umum harus bertahan berjalan lemas dengan pandangan sudah gelap mencari tempat berlindung di pinggir pagar tanpa ada seorangpun yang berusaha menolong. Padahal ada ratusan orang yang bersamaan turun di stasiun tersebut, namun taka da sedikit pun yang membantu, at least bertanya “Kenapa mba?” No one.

Sejak saat itu saya makin tersadar, Indonesia telah berubah. Mungkin di pedesaan dan di kota-kota kecil berbeda. Namun di Ibukota Indonesia ini sudah ngga Indonesia banget :(
Kita harus berubah, mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil. Jadikan Indonesia baik, jadikan Indonesia peduli terhadap sekitar, jadikan Indonesia negeri yang ramah dan tetap mempunyai sikap yang positif dan berkarakter tentu saja.

Bangkitlah Indonesiaku!

Thursday, November 14, 2013

Sedikit Kata yang Bermakna

Suatu ketika saya menemui hari yang begitu berat. Saya sedang menghadapi banyak sekali masalah, pekerjaan menumpuk, teman-teman saya sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri, sedangkan saya sangat butuh support dan bantuan dari siapa pun agar saya tetap kuat. Pada kenyataannya tidak ada teman saya yang bisa diandalkan, karena kesibukan dan masalah masing-masing. Akhirnya saya harus menguatkan diri sendiri, paling tidak untuk melewati hari itu. Memang berat, tapi saya masih punya sisa-sisa keyakinan bahwa saya bisa.

Hari itu berlalu juga, meskipun waktu terasa berjalan sangat lambat. Salah satu teman menyapa melalui BBM, hanya sekedar menyapa dan mengkonfirmasi kehadiran saya di suatu acara. Berharap bisa saling bertemu. Meskipun saya mengkonfirmasi tidak bisa hadir karena ada acara lain, teman saya yang satu ini memang luar biasa, dia meninggalkan sedikit kata yang sungguh bermakna bagi saya hari itu. Dia bilang, "Ok mba, tetap tersenyum dan tebar energi positif ya.."

Setelah membalas BBM nya dengan ucapan terima kasih, saya tertegun. Luar biasa. Seharian saya berkutat dengan masalah, masalah, masalah, negatif, negatif, negatif. Sederet kata itu seperti langsung mengubah hari saya, menguatkan saya, support yang hebat. Hanya sedikit kata. Saya seperti mendapatkan limpahan energi positif seketika itu juga. Chit chat singkat yang melekat di hati dan ingatan saya. Sekali lagi terima kasih ya... ^_^ *inspiring

Kemudian saya berpikir. Kita tidak selalu mengetahui apa yang orang pikirkan, rasakan, butuhkan, permasalahan apa yang orang lain sedang hadapi. Sebagaimana kita, orang lain  tidak selalu ingin diketahui apa masalah yang sedang dihadapi. Tapi ternyata, tanpa harus tahu apa yang mereka pikirkan, apa masalah mereka, menebar energi positif itu bisa membantu meringankan 'beban' orang lain dengan cara yang ajaib. Hanya sedikit kata positif, kita tidak akan rugi jika kita bisa menebarkannya setiap hari, setiap saat. Kita tidak tahu siapa yang akan merasakan manfaatnya, tapi pasti ada ^_^

Semangat menebar energi positif!

Wednesday, November 13, 2013

Jalan-jalan feat pamer hasil karyaku ^_^

Sebenarnya, tujuan utamanya adalah menghadiri undangan nikahan keponakan di Sodong (daerah Serang). Rencana awal hanya sehari, berangkat pagi selesai acara langsung pulang. Mendekati hari H baru diputuskan ada acara menginap yang berarti semua lebih baik ikut daripada kehilangan moment weekend bersama anak-anak. Dan baru sadar bahwa kami sudah tidak ada pakaian yang 'proper' untuk acara pernikahan. Mau beli sudah tidak ada waktu nyari-nyari, akhirnya weekend saya habiskan untuk mengerjakan 'project Roro Jonggrang': satu hari 4 pakaian (emang sukanya gubrakan last minute yaa..).

Jadilah saya dr subuh sampe malem sampe udah pegel bisa menyelesaikan 3 baju. Yang satu lagi untung yang punya ga marah, masih bisa pakai yang lain. (psstt.. saya punya brand untuk pakaian: numee.... *ngiklan dulu)

Ini dia hasilnya buat kak Sya! & Diandra... they love it \(^^)/




duuhh maaf ya pakai kamera hape dan mendung pula... sebenernya bagus tempatnya. Itu di seberang tempat pernikahan keponakan, back ground nya gunung, banyak pohon, tapi mendung jadi seperti itulah hasilnya. Harap dimaklumi yaa...

Truss.. ini yang punya saya ^_^

  









From toe to top hasil karya saya semua.... And we proud to wear it
*kecuali ikat pinggang-nya... ngga keliatan juga kan yaaa... :)

Naahh... itu foto saya sudah di pantai aja kaan... Akibat sudah lama tidak menginjak pasir pantai jadi seperti itulah. Lupa foto cantik dengan pakaian baru buatan sendiri.





Si adek juga ikutan langsung nyebuuur ke pantai gpl *gak pake lama... hehehe

Dari Sodong ke Pantai Anyer ini perjalanan kurang lebih masih 1 jam lagi. Kami memilih menginap di Villa Pisita. Villa-nya udah bangunan-bangunan tua gitu, lumayan bagus, banyak pilihan. Ada yang standar hanya 1 kamar, ada yang sampai 3 kamar plus ruang keluarga, dapur dan masing-masing ada terasnya yang menghadap ke jalan akses ke pantai langsung. Pantainya masih bersih, meskipun di weekend lumayan ramai tapi tetap bersih dan bening airnya.

Sayangnya mendung terus menyelimuti langit di sepanjang perjalanan kami sampai di pantai Anyer pun mendung. Tidak ada foto-foto yang bening. Tidak bertemu dengan sunset maupun sunrise keesokan paginya. Tapi pantainya tetap kelihatan indah. Jika tidak mendung, di foto kami itu background nya gunung Krakatau. Masih terlihat dengan kasat mata, pas di foto ternyata tidak tertangkap kamera :)

Di pagi hari, pagi-pagi banget kami sudah kembali ke pantai. Aji mumpung. Mumpung dekat dengan pantai, kita puaskan menikmatinya. Uniknya, di sana sudah ada beberapa orang yang berdiri agak ke tengah laut, bawa tongkat seperti pancing ikan. Awalnya kami pikir mereka sedang memangcing, tetapi kok di pinggir banget kalo mau memancing ikan? Coba lihat orang-orang yang seperti memancing di belakang saya... *tetep narsis dan menduuuung.. x_x



Ternyata eh ternyataa... Orang-orang tersebut sedang mencari gurita kecil. Kami penasaran dan mendekat ke mereka. 'pancingan'nya  dengan dikasih kepiting kecil di ujung tongkatnya, kemudian ujung tongkat itu dimasukkan ke air disela-sela karang di gerak-gerakkan untuk memancing gurita mendekat. Ada juga yang mencoba mengikuti gerakan orang yang mencari gurita itu dan dapaaattt.. Ketika diangkat ujung tongkatnya, semua otomatis menjauh bergidik.. hiii...


Itu dia guritanya dipegang si bapak-bapak:






Dan... di bagian tembok luar di depan cottage kami ada sesuatu yang membuat saya pengen foto dengan ekspresi seperti ini (di cottage yang lain tidak ada poster seperti itu):






Truuusss... dari berangkat saya sudah 'ngincer' harusss foto sama my father in law. Look! How cool is his red funky shoes!! ^_^





See? Hehehe...
Sepertinya sudah kepanjangan postingan saya.. See u next time and have a great day yaaa...


Wednesday, October 30, 2013

Siapkah Jadi Pemenang?

Pengalaman sangat menarik dan berharga buat saya, bahwa mempersiapkan diri jadi pemenang ternyata sama pentingnya dengan usaha untuk menjadi pemenang itu sendiri.

Baru-baru ini saya mengikuti fashion design competition, menariknya karena saya mendaftar di ujung-ujung waktu, close to the deadline. Padahal saya tahu sudah sejak lama ada competition itu, namun saya masih belum sreg untuk ikut. Suatu waktu saya sedang diskusi dengan teman-teman, saya bercerita ada fashion design competition, langsung pada ngomporin, "Kamu wajib ikuuutt! Kenapa kamu ngga ikut?"
"Ayo daftar sekarang!"
"Ikut donk, kesempatan bagus ini"
Tapi saya ngeles, "tapi waktunya sudah tinggal sedikit lagi."
"Harus ikut, kamu pasti bisa."
"Ini kesempatan untuk meng-ahli-kan diri, sepuluh ribu design! Ayo ikut!"
Saya tetep ngeles dan mikir, "kalo aku menang gimana?"
Otomatis ngga pake lama langsuungg ditertawakan oleh teman-teman. Saya ikut nyengir, tapi dalam hati saya getir. Beneran saya takut menang, karena konsekuensinya lumayan mengerikan bagi saya. Pemenang harus siap menggelar pameran dagang hasil karyanya di Indonesia sudah pasti dan juga siap pameran di Hongkong Fashion Week. Wow!
Teman-teman saya tipe kompor listrik yang flat model baru tanpa asap dan sudah pasti hooottt itu, jadilah saya tetap dikomporin untuk ikut.
Saya manut, saya mulai mengumpulkan keberanian dan daftar.
Setelah mendapat konfirmasi ternyata persyaratannya puuanjaangg dan lamaaa... Sebagai bagian dari tanggung jawab moral karena sudah mendaftar, saya harus persiapkan itu semua, sedetail-detailnya, seeeepenuh hati. Dan mulai mempersiapkan diri untuk menang. x_x

Persiapan mulai dari pencarian bahan yang akan digunakan, karena hasil design harus melampirkan contoh bahan, sambil mulai membuat sketch di angan-angan bakal seperti apa design pakaian saya yang layak untuk dilombakan nanti. 
Satu dua hari lewat baru 2 design saya buat, padahal saya harus punya 10 design! Dan saya harus punya spare waktu untuk pengiriman. Tibalah saat waktu yang saya tentukan sendiri untuk menyelesaikan design tersebut, setengah hari jadi. Lengkap sudah 10 design. Setengah hari saya tidak melihat kanan kiri saya sedang terjadi apa, fokuusss cari ide dan membuat sketch.

Beranjak lega, sebelum mengirim saya cek lagi persyaratan design yang harus dikirim. Alamak! Ternyata lampirannya banyak bangeeettt yang harus saya buat. Saya pikir hanya tema untuk keseluruhan design, kategori warna dan lampiran bahan. Ternyata harus ada tema tiap design, deskripsi design, dan detail perhitungan bisnisnya. Tarik nafas panjaaang,... dan mulai tekun lagi menyiapkan semua persyaratan itu. Sampe malam saya terdiam dan asyik dengan design-design dan uborampe-nya itu. Untung semua mendukung, jadi tidak ada yang protes.. hehehe

Hari itu hari Sabtu, selesainya PR saya itu sudah malam. Masih ada satu hal lagi yang harus saya kejar, pengiriman. Deadline hari Selasa, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Jadi saya hanya punya hari Minggu dan Senin yang harpitnas, cuti bersama versi pemerintah. Hari Minggu sudah pasti tidak ada jasa kurir yang buka, meskipun sudah tau saya tetap telponin satu persatu. Hari Senin besar harapan saya, ternyata susah juga mencari kurir yang buka di harpitnas. Akhirnya menemukan satu kurir yang buka dan bisa memiliki jasa yang dapat mengirimkan di hari libur.

Singkat cerita saya telah mendapat konfirmasi bahwa hasil karya saya sudah diterima panitia. Sampai hari terakhir batas waktu pemberitahuan finalis, saya tidak mendapat kabar. Perut saya mulai mules. Berulang kali saya menghela nafas panjang untuk menenangkan diri. Hari itu berlalu tanpa ada kabar. Saya mulai menata hati untuk mulai 'menerima' bahwa saya tidak menjadi finalis. Benar saja beberapa hari kemudian saya menerima email dari panitia bahwa saya belum bisa menjadi finalis dengan pertimbangan yang berat dsb, dan harapan mereka bahwa saya akan mengikuti competition di waktu yang akan datang.

Saya tersenyum membacanya. Mereka sangat positif memberikan pengumuman tsb. Kecewa iya, saya tersenyum karena saya ingat bahwa dari awal saya memang belum siap jadi pemenang. Meskipun dengan motivasi dari teman-teman yang luar biasa, saya mulai mengubah mind set bahwa saya harus siap dan usaha sepenuh hati, sepenuh waktu dan tenaga sudah saya kerahkan. Meskipun akhirnya belum menjadi pemenang, saya merasa lega, saya mendapat banyak sekali pelajaran dari competition tersebut. Pelajaran teknis maupun pelajaran non teknis, seperti tentang mind set, pentingnya motivasi, usaha keras dan tanggung jawab. Mungkin banyak lagi, tapi saya belum mampu mendefinisikannya :)

Yang jelas hasil karya saya nanti akan segera saya wujudkan, sehingga akan lebih tampak dan berharga hasil daya upaya saya membuat design-design tersebut.
Tunggu tanggal mainnya ^_^

Tuesday, October 29, 2013

Inda Fatmasari

Di judul itu nama saya, penuh makna diberikan oleh orang tua saya sebagai do'a dan penuh harapan agar anaknya menjadi orang yang banyak bermanfaat selama hidup di dunia. Banyak makna, banyak cerita dan tetap banyak sekali impian yang ingin diraih :)

Saya jatuh cinta dengan dunia fashion sejak lama, bakat turunan kalo kata orang. Ibu saya, nenek, kakaknya nenek, nenek buyut, semuanya bisa menjahit, bahkan bisa dibilang ahli di jamannya. Kini saya yang sedang merajut mimpi mengembangkan bakat dan hobby turunan ini dan semaksimal usaha mewujudkannya. Saya bisa design, membuat pola sampai mewujudkannya menjadi pakaian sendiri :)
Mau berbagi tips dan belajar bareng tentang fashion? Hayuk, dengan senang hati..

Saya suka sharing, kalo dibilang trainer saya belum pantas disebut trainer. Tapi jika saya diminta berbagi, sharing ilmu, menginspirasi orang lain agar lebih positif, produktif saya sangat suka :)

Sepertinya cukup itu dulu pembuka blog pribadi saya ini.
Semoga saya juga bisa menginspirasi banyak orang melalui tulisan, mungkin juga melalui hasil karya saya nantinya..
Happy reading...