Friday, February 28, 2014

Akhir Pekanku


Ini cerita akhir pekanku kemarin (22-23 Februari 2014), baru sempat di posting ^_^

Kadang-kadang weekend di rumah aja itu lebih bermanfaat dan lebih membuatku bersemangat, karena aku bisa menyalurkan energiku untuk mendongkrak kreativitas, menyalurkan hobi. Kemarin itu de Andra bersikeras minta dibelikan bando cantik yang ada rumbainya di belakang, seperti mahkota pengantin bergaya Eropa yang harganya tak masuk akal mahalnya bagiku. Akhirnya keluar ajian rayuan ke de Andra supaya beralih dari benda tersebut, dengan kesepakatan aku akan membuatkan bando seperti itu besok (hari Sabtu) di rumah. Alhamdulillah berhasil. (fotonya menyusul yaa.. bocahnya lagi susah difoto)

Selanjutnyaah...
Hari minggunya daripada mati gaya aku bongkar-bongkar lemari bahan. Aku punya lemari kecil khusus buat menyimpan bahan-bahan. Munculnya ide design bisa muncul tiba-tiba atau bisa distimulasi dengan menggelar bahan-bahan yang sudah ada. Nah, pada saat bongkar-bongkar itu aku menemukan batik lucu pemberian temen-temen. Batik Bali dan Batik Jogja.

Ini Batik Bali-nya
(Foto-fotonya bisa diklik untuk memperbesar)


Ini Batik yang dari Jogja


Batik Jogjanya langsung berhasil jadi potongan-potongan kain dan sudah siap untuk dijahit. Belum ada sketsa design bajunya, tapi sudah dipotong-potong, bahkan sudah dapat jodoh kombinasi kain lurik yang unik. (karena sketsa belum dibuat, foto design dan foto jadinya menyusul juga yah. Banyak pe-er deh jadinya) Yah begitulah. Sesuatu yang tidak berurutan itu bagiku lebih menyenangkan.

Tapi Batik Bali-nyaaa... Dapat inspirasi design cardigan sleeveless yang longgar dengan detail capuchon. Ini dia sketsa design-nya.


Truuuss... jadinya seperti di foto ini. Taraaaaa.....





Ga berani komentar hasil karya sendiri.. Silakan yang mau komentar langsung maupun tak langsung, serial maupun paralel terserah... ^_^

@indaaja
@IDnumee

Review Buku: Brida



Review novel  : Brida
Penulis             : Paulo Coelho
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Pada awal saya mau memulai baca novel “Brida” ini, sejenak saya tertegun melihat covernya. Tiba-tiba saya teringat suatu ketika saya sedang… #ahsudahlah (…sedang kreatif heheh), saya pernah membuat sketch seorang wanita yang menghadap ke belakang seolah membelakangi yang melihat dan menatap lurus ke depan ke tempat yang ia tuju. Posisi dan “ide”nya sama dengan cover novel ini. Check this out!


Novel ini sudah saya beli sejak lama, namun baru disempatkan membacanya minggu ini. Seperti judulnya, novel ini bercerita tentang perjalanan kehidupan seorang wanita bernama Brida, berusia 20 tahun, mahasiswi dan pekerja. Brida berusaha mencari Guru untuk menemukan dan mengasah Bakat-nya sebagai seorang penyihir, ilmu yang menghubungkan antara dunia kasat mata dengan yang tak kasat mata.

Dalam pencariannya dengan sengaja dia mendatangi seorang Guru yang tinggal menyendiri di tengah hutan. Guru itu bernama Magus dan darinya Brida belajar tentang Tradisi Matahari, menaklukkan Malam Kelam, tentang keberanian. Magus mengajarinya bukan dengan cara ceramah atau bercerita, tapi dengan mengalaminya sendiri. Pesan Magus pada Brida bahwa ketika ia sudah menemukan jalannya, Brida tidak boleh takut, Brida harus berani untuk melakukan kesalahan, berani menghadapi kekecewaan, kekalahan dan keputusasaan. Dan Brida harus berani melanjutkan perjalanannya meskipun dia akan menemui semua perasaan tersebut.



Setelah berhasil menumbuhkan keberanian yang diajarkan oleh Magus, Brida pergi ke sebuah toko buku bertema okultisme, yang tak pernah mengiklankan tokonya di media manapun, namun orang-orang berdatangan karena rekomendasi dari orang lain. Dan kedatangan Brida tak begitu dihiraukan oleh pemilik toko yang sedang sibuk dan segera berubah menjadi baik ketika Brida menghampiri dan bercerita kepadanya bahwa dia telah diterima menjadi murid Magus. Bahkan pemilik toko itu merekomendasikan sebuah nomor telpon untuk dihubungi, nomor Wicca, yang menjadi Guru bagi Brida selanjutnya.

Sama seperti Magus, Wicca juga tak banyak bicara ketika memberikan ‘ilmu’nya. Brida harus mengalaminya sendiri, mempraktekkannya langsung, rutin setiap hari, hingga sampai pada suatu titik dia mengerti apa yang diajarkan. Wicca mengajarkan Tradisi Bulan dan Brida merasa lebih cocok dengan ilmu yang diajarkan Wicca, dan dia mendalaminya. Meskipun, entah kenapa, ketika dia merasa kesulitan atau apapun, dia selalu kembali pergi ke Magus dan menjadi tenang kembali setelah bertemu dengannya.

Sejalan dengan bertambahnya ilmu yang dikuasai Brida, akhirnya dia bisa melihat cahaya di pundak kiri Pasangan Jiwa-nya, dia adalah Magus. Magus sudah mengetahuinya sejak pertama mereka bertemu, namun membiarkan Brida mempelajari dan mengalaminya sendiri. Ketika Brida tau bahwa ternyata Magus adalah Pasangan Jiwa-nya, dia sudah memiliki seorang kekasih bernama Lorens.

Pada akhir cerita, Brida berhasil mencapai malam inisiasi atau ‘penobatan’ dirinya sebagai seorang ahli sihir Tradisi Bulan dan memilih hidup bersama Lorens yang sangat mencintai dan dicintainya.

Novel ini sarat akan pelajaran kehidupan yang dikiaskan dengan cerita fiksi yang menarik. Paulo Coelho selalu bisa membuat pembacanya memiliki “film” sendiri ketika membaca kisah yang diceritakan di buku-bukunya. Dan dia menghormati “film-film” pembacanya dengan tidak pernah menerima tawaran untuk mem-film-kan novelnya.



Happy reading,


@indaaja
bookliciousclub.blogspot.com

Saturday, February 15, 2014

Review Buku: Womanology




Penulis: Yuswohady,
              Dyah Hasto Palupi dan
              Teguh Sri Pambudi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Womanology, secara bahasa berarti ilmu pengetahuan tentang wanita. Mengapa saya tertarik padahal saya sendiri seorang wanita? Bukaaan… sama sekali bukan karena saya sudah berubah orientasi menjadi pencinta wanita. Saya masih normal. Hehehe. Judul utamanya sangat menarik, judul selanjutnya tak kalah menarik: “The Art of Marketing to Woman”. Saking saya tertariknya, saya langsung menawar buku ini dengan harga paling tinggi di antara penawar yg lain di sebuah "Garage Sale for Charity" yang digelar RUMI untuk para korban banjir. Selain niat mau bantu, saya ga mau repot nyari-nyari buku ini lagi di luar sana. Udah di depan mata, ambil aja.

Pembelian buku ini terkait dengan usaha saya untuk merintis brand saya sendiri “numee”. (Tentang numee nanti saya ceritakan terpisah di blog ini). Saya harus banyak belajar marketing, terutama pada wanita (ini juga mengandung banyak alasan, namun ini tentang Womanology, bukan tentang saya atau numee ^^).  Sesuai dengan isi buku Womanology, memberikan banyak ilmu tentang strategi pemasaran kepada wanita, yang sebenarnya bisa juga diterapkan untuk segmen pria, untuk siapa saja.

Buku ini lahir dari hasil riset panjang dan mendalam selama berbulan-bulan yang dilakukan oleh para penulis untuk menggali berbagai marketing wisdom dari perusahaan besar Martha Tilaar Group (MTG) yang telah menelan pahit manisnya mengelola merk-merk yang dilahirkannya. Tak tanggung-tanggung, MTG sudah memiliki pengalaman selama 40 tahun mengelola merk-merknya, yang sudah pasti sarat dengan ilmu dan strategi menarik yang bisa kita ambil.

Dari hasil riset tersebut para penulis merumuskannya menjadi 5 unsur dasar Womanology, yang dibuat menjadi sebuah model yang disebut “The Diamond Model of Womanology”. Seperti sudut-sudut sebuah diamond yang ada 5, Womanology memiliki 5 unsur, yaitu connection, care, value, emphaty dan trust. 5 unsur inilah kunci yang harus diperhatikan untuk menaklukkan dan memenangkan hati wanita. (Semoga saya ga salah menerapkan… hahaha)



Secara singkat 5 elemen kunci “The Diamond of Womanology” jika diuraikan, seperti ini:
  1. Connection: bangun hubungan emotional yang tulus. Bangun hubungan brand dengannya dan hubungkan dia dengan yang lainnya, sesama pecinta brand kita. Wanita memilih sebuah brand untuk membentuk emotional connection dengan brand tersebut. Wanita memilih karena menyukai brand-nya, menemukan “kesamaan” dan dapat meng-koneksikan dirinya dengan brand tersebut.
  2. Care: wanita suka diperhatikan, wanita suka didengarkan, wanita suka dimengerti. Pria juga. Siapa yang tidak? Jadi ini memang jurus ampuh strategi pemasaran kepada siapapun.
  3. Value: wanita adalah customer yang sangat value-oriented. Dia sangat memperhatikan nilai apa yang bisa diperoleh dari membeli sebuah produk dan bersamaan itu juga dia memikirkan seberapa besar dia bayar, seberapa banyak yang dia dapat. Tak hanya kegunaan produk, tapi produk itu harus memiliki benefit lebih supaya terus menjadi pilihan wanita.
  4. Empathy: sebagai suatu bentuk kelebihan wanita, brand bisa menunjukkan empati terhadapnya akan jadi pemenang hatinya. Di sinilah kreatifitas dan kepekaan suatu brand ditantang untuk tak hanya memikirkan profit, tapi juga untuk berempati terhadap wanita, terhadap masyarakat sekitarnya atau seluas-luasnya.
  5. Trust: ini adalah elemen terpenting dalam pemasaran ke wanita. Karena tanpa kepercayaan yang melandasi customer wanita mau membeli dan menjalin relationship dengan brand kita. Bangun kepercayaan dengan memberikan apa yang telah dijanjikan, walk the talk dan never over promise. Karena sekali kepercayaan wanita terhadap brand kita terkoyak, hampir mustahil membuatnya percaya lagi.

Buku setebal 396 halaman itu selain telah mempermudah kita menemukan kunci penting pelajaran berharga dari perjalanan panjang MTG dengan “The Diamond of Womanology”-nya, di sana juga dijelaskan secara rinci banyak pelajaran berharga dari MTG dalam strategi-strategi pemasaran. Bagaimana MTG tidak hanya survive di kala krisis tapi malah makin bercahaya, bagaimana kepekaan MTG dalam mengambil peluang, bagaimana MTG tidak hanya melulu memikirkan profit tapi juga sekaligus memberikan manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang, dan masih buaanyak lagi. Gak bakalan rugi membacanya untuk membangun brand kita, apa pun jenis brand-nya.. ^_^

Happy reading,

Join us on BookliciousClub.blogspot.com